
LOVER.....
Mengejarmu ibarat mengejar embun untuk mendapatkan tetesannya di udara,
kau ibarat molekul-molekulnya yang bisa kurasakan namun tak bisa kuraih dan kugenggam.
Bukan kau yang menyiksaku, Lover...
tapi keadaanlah yang memaksaku demikian.
Aku mati di sini...
Aku memang masih bernafas
Tapi jiwaku pergi dan hilang mengejar sosokmu yang semakin menjauh.
Aku rapuh,
Serapuh bangunan-bangunan romawi yang ditelan oleh masa,namun dia tetap tegak
Aku tak kuat, Lover...
Haruskah aku pergi meninggalkanmu ke sebuah tempat dimana aku tak bisa lagi memandang wajahmu, Lover?
Haruskah?
Tapi semakin aku menjauh dan mencoba menghilang darimu
Jiwaku semakin dekat
Sedekat jari-jari yang tak pernah memisah.
Lover...
Lihatlah aku disini!
Aku bahkan kehilangan harga diri untuk menjadi seorang wanita
Aku lemah...
Menangis dan larut dalam keibaan yang panjang sampai kapa, Lover?
Sampai kapan....
Sampai bumi hancur dan langit digulung-gulung bagai gulungan kertas,seperti yang di ceritakan di berbagai buku romantis.
Aku tak mau.
Aku semakin lemah...
sangat lemah,Lover
Selemah Hawa yang tergoda untuk makan buah Khuldi oleh ayaitam ketika di surga.
Kau tahu cerita itu bukan?
Aku ingin bersamamu
Aku ingin bercerita tentang love story yang sebenarnya tak pernah ku percaya kebenarannya
Tapi itu tidak membosankan
Aku tak boleh melewatkannya
Lover,aku tak kuasa melupakanmu
Aku tidak mampu untuk itu
Melupakanmu ibarat menguliti kulitku sendiri
Sakit...rasanya sangat sakit.
Aku lemah...
Sekarang bertambah lemah...
Semakin lemah...
Apa yang harus aku lakukan,Lover?
Matikah?
Kurasa memang aku harus mati,Lover.
Agar kisah ini berakhir
Ya...berakhir...
Karena kutahu kau tercipta bukan untukku
bu..kan...un..tuk...ku...